logo
pr-logo-head
Rabu, 02/05/2018 12:00
PENULIS : RANDI MULYADI - EDITOR : YUDHO RAHARJO

WHO: Polusi di Jakarta Melampaui Batas

img6

Jakarta (indonesiaexpat.biz)

Polusi udara menyebabkan kematian sekitar tujuh juta orang per tahun. Sebagian besar korban berasal dari negara miskin.

Menurut Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Dr Tedros Adhanom Ghebreyesus, polusi udara mengancam semua manusia.

"Tetapi, orang-orang di negara miskin dan paling terpinggirkan menanggung beban berat," ujarnya dikutip dari independent.co.uk.

Pada April 2018, WHO mengungkapkan sembilan dari sepuluh orang menghirup udara yang mengandung polutan berbahaya.

Angka-angka itu muncul setelah WHO mendapat laporan bahwa penduduk di Ibu Kota Mongolia,Ulaanbaatar, harus minum "koktail oksigen" untuk menangkal efek bahaya polusi udara.

Ulaanbaatar sendiri merupakan ibu kota paling tercemar di dunia berdasarkan WHO, dan menjadi salah satu dari banyak kota Asia dan Afrika yang menjadi sorotan akibat polusi.

Dr Maria Neira, yang memimpin upaya kesehatan masyarakat di WHO, mengatakan banyak kota besar di dunia; Beijing, Delhi, dan Jakarta, tingkat polusinya melebihi batas tercemar.

Jika hal itu terus dibiarkan, penduduk di kota-kota tersebut lebih berisiko terkena penyakit seperti stroke, penyakit jantung dan kanker paru-paru, akibat menghirup udara tercemar.

"Bayangkan pencemaran tersebut masuk ke paru-paru dan sistem kardiovaskular. Tentu akan mengganggu tubuh manusia," ujar Dr Neira.

Polusi udara sendiri bisa diakibatkan beberapa faktor, seperti gas dari kendaraan, asap industri, rokok, kebakaran hutan, dan kegiatan rumah tangga.

#Edukasi #kesehatan

KOMENTAR

ARTIKEL LAIN