logo
pr-logo-head
Senin, 30/07/2018 08:00
PENULIS : RANDI MULYADI - EDITOR : RAHMA PRATIWI

Menemukan Hubungan Mimpi dengan Realita

img6

Ilustrasi mimpi (Sumber: thesleepdoctor.com)

Sejumlah ilmuwan rasanya masih penasaran mengenai hubungan antara mimpi dan realita.

Sejumlah penelitian mengungkap jika mimpi sepenuhnya terjadi di bawah alam sadar manusia, sehingga sulit untuk melakukan komunikasi.

Hingga saat ini, ilmuwan belum memiliki media atau alat yang memadai untuk melakukan penelitian terhadap mimpi.

Namun, para peneliti dari The Swansea University Sleep Lab di Inggris sepertinya telah menemukan titik terang mengenai penelitian tentang mimpi.

Mereka menemukan intensitas emosional dari pengalaman ketika bangun dapat dihubungkan dengan intensitas aktivitas ketika mimpi, dan konten yang diimpikannya.

Untuk memulai ini semua, mereka menguji 20 siswa yang mampu mengingat sesering mungkin mimpi mereka untuk dipelajari.

Pertama, para peneliti mewajibkan semua mahasiswa untuk membuat jurnal yang rinci tentang kehidupan sehari-hari mereka selama 10 hari.

Untuk masing-masing aktivitas, para siswa harus mencatat bagaimana perasaan mereka setelahnya, dan menilai intensitas emosional tersebut menggunakan skala bernomor.

Lalu, para siswa menghabiskan beberapa malam pertama di laboratorium dengan tidur menggunakan topi elektroensefalografi non-invasif.

Alat itu mampu mengamati dan merekam aktivitas gelombang otak yang terkait dengan slow-wave sleep (gelombang lambat) dan pergerakan rapid-eye sleep (gelombang theta).

Setelah 10 menit pada siklus tidur, para peneliti membangunkan siswa dan menanyakan apa yang mereka mimpikan.

Mimpi-mimpi ini kemudian dibandingkan dengan jurnal yang telah dibuat dengan sejumlah teori tentang mimpi untuk melihat apakah ada korelasi.

Melansir laman sciencealert.com, hasilnya, para peneliti menemukan hubungan antara aktivitas dengan mimpi yang mereka alami.

Jumlah kejadian yang tercatat dalam buku harian juga memiliki keterkaitan dengan intensitas gelombang theta, tetapi tidak dengan gelombang lambat mereka.

Selain itu, memikirkan sesuatu yang memiliki dampak emosional yang lebih tinggi memperbesar kemungkinan untuk masuk ke dalam mimpi daripada hal-hal yang membosankan.

"Ini adalah temuan pertama yang membuktikan adanya hubungan tersebut," kata psikolog Swansea University, Mark Blagrove.

Ke depannya, mereka jika penelitian ini terus berlanjut dan berhasil, mereka bisa menemukan metode untuk memanipulasi tidur.

#Edukasi

KOMENTAR

ARTIKEL LAIN

Menuju Smart Government Bersama Pikiran Rakyat_300x250

MOST READ

avatar
Ask The Expert

Wine Biru 'Vindigo', Idola Baru di Negara Prancis

Sebotol wine biru yang dilabeli Vindigo ini dijual seharga 12 Euro atau setara Rp199 ribuan.

RIKKO RAMADHANA PUTRA
Senin, 13/08/2018