logo
pr-logo-head
Jumat, 29/06/2018 15:00
PENULIS : RIKKO RAMADHANA PUTRA - EDITOR : RAHMA PRATIWI

Menengok Tim Sepakbola yang Seluruh Pemainnya Korban Perang Israel

img6

Tim sepakbola di Gaza (Reuters)

Keterbatasan tidak membuat orang-orang di Palestina ini gagal menyalurkan hobi mereka.

Sekelompok orang itu merupakan tim sepakbola yang berisikan korban perang dengan Israel di Jalur Gaza.

Sebagian besar dari mereka hanya memiliki satu kaki, tetapi semangat mereka tak pernah luntur.

Adanya tim sepakbola ini membuat para korban perang memiliki semangat dan tujuan baru dengan menyalurkan hobi mereka.

Suasana latihan tim (Foto: Reuters)

"Saya kebanyakan duduk di rumah, sedih. Sekarang saya senang, punya teman dan kami bermain," ujar pemain berusia 13 tahun, Ibrahim Khattab seperti dikutip dari Reuters, Jumat 29 Juni 2018.

Ibrahim harus kehilangan kaki kirinya tahun 2014 karena terkena rudal Israel.

Ia tengah bermain sepakbola di luar rumahnya saat musibah itu terjadi.

Kini, ia secara rutin bermain untuk tim sepakbola ini di sebuah lapangan di wilayah tengah kota Gaza yang merupakan perbatasan Israel-Palestina.

"Dia selalu putus asa, sekarang setelah dia bergabung dengan tim sepak bola, saya melihat dia memiliki harapan," kata ayahnya, Khaled.

Pembentukan tim

Tim sepakbola ini dibentuk oleh anggota komite paralimik Palestina, Fouad Abu Ghalyoun.

Ide membentuk tim muncul usai dirinya melihat pertandingan antara tim amputasi Inggris melawan Turki.

Suasana latihan tim (Foto: Reuters)

"Sulit meyakinkan mereka yang pincang diamputasi untuk maju. Saat ini mereka memanggil kami untuk bertanya tentang waktu latihan," ujar Fouad.

Dalam waktu lima bulan, terdapat 16 pemain yang mendaftarkan diri untuk terlibat dalam tim.

Kini, sebanyak 54 pemain berusia 13 hingga 42 tahun telah menyatakan minat untuk bergabung.

Tim sepakbola ini juga telah memiliki seorang pelatih bernama Khaled Al-Mabhouh.

Menurut data pejabat kesehatan Gaza, sebanyak 130 warga Palestina telah dibunuh oleh pasukan Israel selama demonstrasi massal sejak 30 Maret 2018.

Taktik Israel dalam menghadapi protes telah mengundang kecaman internasional karena cenderung melakukan kekerasan.

#hobi

KOMENTAR

ARTIKEL LAIN